Tuesday, December 1, 2015

Kutipan Teori Terjemahan

Translation Methods:
  1.  word-for-word
  2. literal
  3. faithful
  4. semantic
  5. adaptation
  6. free translation
  7. idiomatic
  8. communicative
(Newmark, P. 1998. A Textbook of Translation. UK: Prentice Hall)

Translation means the act of transferring the meaning of a text from one language into another.
(Nida, 1969. The Translation Performance, Translation Process, and Translation Strategies. Germany: Gunter Narr Verlag Tubingen.)

Translation is rendering the meaning of a text into another language in the way that the author intended the text.
(Newmark, P. 1998. A Textbook of Translation. UK: Prentice Hall)

Translation consists of reproducing in the receptor language the closest natural equivalent of the source language message, in terms of meaning and style.
(Nida, E.A., and Charles R. Taber. 1974. The Theory and Practice of Translation. Leiden: E.J. Brill.)

Translation may be defined as the replacement of textual material in one language (source language) by equivalent textual material in another language (target language).
(Catford, J.C. 1965. A Linguistic Theory of Translation. London: Oxford University Press.)

Translation is a process of finding TL (target language) equivalent for an SL (source language) utterance. (Pinchuck, I. 1977. Scientific and Technical Translation. London: Andre Deutsch.)

The translation is the expression in another language (or target language) of what has been expressed in one, source language, preserving semantic and stylistic equivalences.
(Bell, R.T. 1991. A Linguistic Theory of Translation. London: Longman Group Ltd.)




Thursday, August 6, 2015

L'anniversaire de L'homme Charmant

Joyeux Anniversaire, l'homme charmant. :D

Je souhaite que vous avez une vie heureuse. :)

Permettez-moi de souffler la bougie pour vous. :P



Je t'aime comme toujours.
Mon bureau, 6 Août 2015
3:02
@indahituaku

Tuesday, July 28, 2015

Hati Seluas Samudra

Itulah hal dasar yang harus kamu miliki kalau kamu harus berhadapan dengan sesorang yang lebih "berumur".
Sebagai seorang yang berusia lebih muda di antara yang lain, tantangannya bukanlah bagaimana menyelesaikan pekerjaan dengan baik, melainkan bagaimana menjaga komunikasi agar tetap baik.
Sudah menjadi kewajiban umum yang tidak tercatat di buku peraturan mana pun kalau yang tua "biasanya" susah mengalah dan "jarang" mau kalah.

Seberapa benar hal yang kamu lakukan, kamu tetaplah harus memiliki hati seluas samudra.
Gak boleh marah, gak boleh jengkel, gak boleh kecewa, gak boleh protes, dan seribu gak boleh lainnya.
Tenang saja, mengalah bukan berarti kalah kok. :)

Jadi, untuk sekarang ini, marilah menjaga congor plus jari-jemari supaya tidak terlontar kata-kata yang dianggap salah, walau kenyataannya tidak salah.
Rasah dipikir jero, mari belajar mengendalikan emosi.
Inilah mengapa usia tidak menentukan kedewasaan. :)

Kantor, Hasil Refleksi
Mardi, 28 juillet 2015 1:32 PM
@indahituaku

Tuesday, July 14, 2015

Depresi dan Bunuh Diri

Pagi ini aku terbangun karena berisik suara tetangga yang heboh mendegar berita duka.
Seorang warga RT kami meninggal pagi ini karena minum obat.
Iya beritanya tidak jelas, cuma sepenggal kalimat itu, tidak lebih, tidak kurang.
Bisa jadi si ibu ini meninggal karena depresi lalu bunuh diri.
Membicarakan bunuh diri adalah hal yang menarik.
Sebagian orang yang tidak tahu dan tidak mau tahu seberapa sakitnya depresi itu, dengan enaknya melabeli orang tersebut sebagai tidak kuat iman, lemah mental, dan pendek akal.
Tak tahukah mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat berperan dalam depresi yang dialami si korban?
Mereka seolah tidak merasa dan tidak peduli.
Depresi itu bukan penyakit yang dapat dideteksi dengan mudah dan disembuhkan hanya dengan minum obat yang beli dari warung.
Sebulan yang lalu, aku terjatuh dari motor saat hendak menuruni teras menuju jalan raya.
Jatuhnya bukan dengan kecepatan tinggi, hanya terpeleset kemudian kejatuhan motor.
Bahkan tidak ada memar sama sekali.
Tetapi memarnya?
Baru hilang setelah satu bulan.
Sementara luka akibat depresi, tidak terlihat, namun dalam dan menyakitkan.
Anda tak pernah tahu apakah seseorang memiliki trauma sampai orang tersebut menceritakan sendiri.
Anda tak pernah tahu seberapa dalam depresi yang dialami seseorang, sampai seseorang tersebut mulai kehilangan akal sehat.
Depresi hanya akan terlihat, setelah mencapai tahap kronis dan butuh perjuangan keras untuk menyembuhkan.
Pelajaran yang bisa dipetik dari tulisan ini?
Hati-hati dalam berucap.
Jangan asal njeplak!
Kita diberkahi dua telinga, dua mata, dan satu mulut dengan tujuan mulia, supaya kita lebih banyak mendengar, mempelajari dengan melihat, dan berbicara jika perlu.
Alangkah baiknya mulut satu-satunya yang kita punyai, kita gunakan untuk mengungkapkan hal-hal baik.
Amin? AMIN!

Kantor, 3 hari menjelang lebaran
@indahituaku

Friday, May 29, 2015

Jurnal Dua

Hai, jurnal dua ini berisi catatan perjalanan saya ke Paris van Java pada tanggal 1-3 Mei lalu.
Selamat membaca! :)

Setelah proses menabung, akhirnya impian saya untuk berkunjung ke ibu kota Jawa Barat itu pun terwujud.
Bisa dibilang ini merupakan perjalanan nekat. Hehe.
Bagaimana bisa?
Sebelumnya, saya berencana untuk mem-bolang.
Untuk menghemat biaya, saya memutuskan untuk menjadi parasit di kos teman.
Lumayan, biaya numpang menginap di kosnya hanya Rp 35.000,- per malam. Hehe.
Namun, ternyata salah satu sahabat saya berniat ikut.
Hanya saja dia berangkat dari Jakarta.
Segera kami pun mencari penginapan yang sesuai kocek kami dibantu mbah gugel.
Setelah ber-mumet-mumet ria, kami menemukan beberapa penginapan yang murah meriah dan layak huni.
Masalahnya penginapan tersebut tidak menerima pemesanan, jadi kami harus datang langsung ke sana pada hari H jika hendak menginap.
Bermodal keyakinan bahwa penginapan tersebut tidak akan penuh saat kami sampai ke sana, kami pun berangkat ke Bandung.

Saya berangkat dengan Kereta Malabar dari Stasiun Tugu Yogyakarta.
Kereta Malabar merupakan kereta jurusan Malang-Bandung.
Tidak ada yang spesial dalam perjalanan menuju Bandung karena selama perjalanan saya menghabiskan waktu untuk membaca buku dan tidur. Hehe.
Sesampainya di Stasiun Bandung saya bergegas mencari angkot jurusan Lembang berwarna putih tulang untuk transit ke kos teman.
Satu kalimat untuk kota Bandung, jalannya banyak yang rusak, susah sekali ditemukan jalan yang halus nan mulus di sana. :(

Sesampainya di kos teman, saya menunggu teman yang berangkat dari Jakarta.
Dia pergi dengan travel dan diperkirakan sampai siang hari.
Oh ya, saat turun dari angkot tadi saya sempat membeli mendoan, dan tahukah kamu?
Setelah jauh-jauh ke Bandung ternyata saya ketemu orang Jawa juga. Hehe.
Iya, penjual mendoannya orang Jawa, asli Kutoarjo.
Saat saya membeli dagangannya dia sedikit basa-basi, saya kerja atau kuliah, di mana, saya bilang saya bekerja di Jogja.
Seketika itu juga si mas-mas ini ngobrol pakai bahasa Jawa.
Jadi berasa sedang tidak berada di tanah Pasundan. Hihi.

Setelah lama menanti, akhirnya teman saya dari Jakarta sampai juga.
Kami memutuskan untuk menghabiskan hari itu untuk pergi ke daerah distro di Jalan Riau sebelum check-in ke penginapan.
Satu hal yang saya suka dari Bandung, angkotnya banyak bingits, 24 jam pula, semua tujuan dapat dijangkau oleh angkot!
Luar biasaaa...
Maaf katrok, di Jogja, angkot semakin sedikit, yang bisa menjangkau banyak tujuan hanya TransJogja itu pun hanya beroperasi dari jam 6 pagi-9 malam. :(
Meski di Bandung ada beberapa tujuan yang harus dijabani dengan 2-3 kali naik angkot, menurut saya itu bukan karena tujuannya jauh, tetapi banyak jalan di sana merupakan jalan searah.

Saat naik angkot untuk ke Jalan Riau, saya sudah bilang ke pak sopir untuk menurunkan kami di Jalan Riau.
Di perjalanan, kami sempat melihat rumah makan yang unik berbentuk bioskop.
Kami sudah bertekad untuk mampir ke sana saat pulang nanti.
Sepertinya Pak Sopir melamun dan kami baru tersadar ketika nama jalan yang berupa nama-nama pulau sudah terlewat, bahkan kami sudah melewati jalan layang Kiara Condong.
Yaaak... Kami tersesat... Haha...
Pak sopir lupa bilang saat Jalan Riau tadi sudah terlewat.
Kelewatannya pun lumayan jauh, hiks.
Satu jam terbuang sia-sia atas kejadian terdamparnya kami ini.

Sesampainya di Jalan Riau, hari sudah menjelang sore.
Kami pun memutuskan untuk window shopping ke beberapa outlet saja.
Dan hal yang paling membuat dongkol adalah...
Ternyata Jalan Riau itu adalah jalan tempat kami melihat rumah makan bioskop itu tadiii..
Kyaaa..
Rasanya ingin menubrukkan kepala ke Gedung Sate. -_-"
Menurut saya, barang-barang di deretan toko itu sebenarnya bisa didapat juga di Jogja.
Kalau hendak berkunjung ke sana, mungkin kamu bakal lebih tertarik untuk membeli pakaian anak-anak.
Mulai dari baju bayi, batita, balita, sampai anak-anak sebelum ABG bentuknya lucu-lucu. >.<
Beserta perlengkapannya semua lengkap dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Untung saya belum beranak, jadi gak khilaf belanja ini-itu. *eh*

Menjelang maghrib, kami bersantap malam di rumah makan bioskop.
Rasa masakannya sih biasa saja, cuma harganya agak luar binasa. Haha.
Suasana restonya lucu, di tengah-tengah resto ada layar tancep dan film-film yang diputar adalah film zaman jebot, film zaman Warkop gitu.

Dari sana kami melanjutkan perjalanan ke Jalan Asia Afrika.
Cuma luput, ternyata Museumnya tutup pada hari libur nasional dan hari Senin.
Yah, foto-foto di sekitarnya sudah cukup menghibur kok.
Banyak sisa pernak-pernik KAA 2015 di sepanjang jalan yang lumayan untuk jadi bahan jepretan.
Kami melanjutkan wisata malam ke Taman Jomblo dan Taman Film.
Kedua taman ini berada di bawah jembatan layang.
Kondisi Taman Film masih lebih terawat dibanding Taman Jomblo.
Meski begitu, Taman Jomblo masih layak dijadikan tempat nongkrong atau sekadar melepas penat kok.
Sayangnya, kami tidak sempat ke Taman Lansia dan Taman Pramuka karena malam mulai menggelayut.
Saya iri lho, di Jogja mencari ladang terbuka hijau yang bisa dipakai untuk nongkrong gitu susah sekali.
Coba sebut apa saja taman yang ada di Jogja? Hanya Taman Pintar, kan?
Setahu saya, ada taman di sebelah Terminal Giwangan tapi sudah tak terurus, bentuknya sudah seperti hutan belantara. :(
Pemerintah Jogja yang sekarang sibuk bangun hotel dan mall.

Setelah mengambil barang yang kami titipkan di kos teman, kami beranjak ke penginapan.
Daaan... Taraaa!!!
Penginapannya sudah penuh.
Dibantu pacar teman saya, kami mencoba mencari penginapan lain di sekitar situ, hasilnya nihil!
Salah kami tidak langsung check-in saat tiba di Bandung. Hehe.
Untungnya, teman saya yang baik hati dan rajin memasak bersedia menampung kami di kosnya.
Puji Tuhan! Haleluya! Merdeka!
Atas kebaikannya dan pacarnya, yang mengantar kami tengah malam itu, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. :)

Pada hari Sabtu, kami menghabiskan hari di Trans Studio.
Lanjut makan siang di dalam Trans Mall.
Lalu mampir di alun-alun untuk berfoto-ria saat pulang.
Santap malam kami lakukan di warung tenda di dekat Rumah Sakit Hasan Sadikin.
Kami pesan soto dan usus goreng.
Soto di sana lebih mirip gulai dan tidak pakai kol.
Makanya saat kami pesan soto tidak pakai kol si akang-akangnya bingung. Hihi.
Ususnya tidak dibacem dulu, jadi saat digoreng kemripik gitu.

Teman saya yang dari Jakarta itu pulang dengan kereta pagi-pagi sekali di hari Minggu.
Setelah dua hari jalan terus, ternyata kaki saya hampir toklek.
Maklum, saya jarang olahraga.
Ke mana-mana naik motor.
Jadi, jalan-jalan selama dua hari itu sudah cukup menguras sendi otot kempol saya.
Akhirnya, saya pun hanya tidur seharian di hari Minggu sebelum pulang dengan kereta di sore hari.
Sebenarnya, saya bercita-cita untuk menuliskan semua angkot yang saya naiki selama di sana, tapi akibat kebanyakan makan micin, kemampuan mengingat saya berkurang. *ngeles* :P
Saya sudah lupa naik angkot apa aja, hihi.
Kalau kalian mau pergi dengan angkot saat di Bandung, jangan sungkan untuk tanya.
Dan jangan lupa bilang sama sopirnya mau turun di mana.
Tarif angkotnya murah kok, sekitar Rp 2.000-Rp 5.000 saja tergantung jauh-dekat.

Sekian jurnal dua kali ini.
Sampai bertemu di jurnal selanjutnya.
Kantor, menjelang mbolang lagi.
290515
@indahituaku

Wednesday, April 22, 2015

Hari Bumi 2015

Hari ini adalah peringatan Hari Bumi 2015.
Hal apa yang sudah kamu lakukan hari ini sebagai tanda sayangmu terhadap bumi kita tercinta?
Kalau menyayangi pacar aja perlu komitmen, apalagi menyayangi bumi, lebih susah cyin.
  • Dimulai dari hal yang sederhana, matikan/cabut peralatan listrik yang tidak terpakai.
Apakah sudah selalu kamu lakukan?
Yakin sudah?
Kalau baterai hp sudah selesai di-charged, selalu ingat untuk mencabut charger-nya?
  • Lalu, mengurangi pemakaian plastik/gabus sintetis/kertas.
Sudah kamu lakukan?
Yakin?
Kalau beli makan di warung bawa tempat makan sendiri?
Kalau beli minum di burjonan bawa tempat minum sendiri?
Kalau belanja di minimarket/supermarket/pasar bawa tas sendiri?
  • Kemudian, mengurangi pemakaian kendaraan bermotor pribadi.
Ke minimarket/supermarket di luar gang rumah masih naik motor.
Ke tempat yang bisa dijangkau dengan kendaraan umum masih pakai mobil pribadi.
Bahkan, akhir-akhir ini semakin jarang terlihat trotoar yang masih layak dilalui pejalan kaki.
Jalur pesepeda juga mulai beralih menjadi parkir mobil.
Tuh kan, susah menjaga komitmen untuk setia meyayangi bumi.
Tidak usah berkoar-koar menuntut perusahaan sawit untuk melakukan penghijauan,
atau demo meminta pemerintah memikirkan hutan di Indonesia yang makin gundul,
kalau kamu belum melakukan tiga hal sederhana di atas.
Kalau bukan kita yang menyayangi bumi, lalu siapa lagi? Pakmi? Pakmi Jawa kaleee...
O iya, dalam rangka Hari Bumi, Google bikin kuis, kalau diibaratkan hewan, kita ini hewan apa.
Saya ternyata adalah titisan seekor Trenggiling, hihi..
Kamu bisa cari tahu sendiri di sini:
https://www.google.co.id/search?q=earth+day+quiz&oi=ddle&ct=earth-day-2015-5638584300208128&hl=en

Bumi menyediakan segala kebutuhan kita, tapi kerakusan kita merusaknya.
“Earth provides enough to satisfy every man's need, but not every man's greed.” -- Mahatma Gandhi

Kantor, membunuh bosan
kala menunggu hasil terjemahan untuk diedit.
22/04/2015
2:09 PM


Wednesday, March 18, 2015

Jurnal Satu

Hai, ini cerita tentang hari Minggu lalu, 15 Maret 2015.

Pagi itu, saya bangun pukul 04.30 WIB,
mengingat pukul 05.00 harus sudah sampai bandara untuk check-in.
Hari itu saya ditugaskan terbang ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan kilat.
Bangun sepagi itu, saya hanya sempat makan setangkep roti tawar dengan olesan selai cokelat.
Saya berangkat bersama seorang rekan kerja.
Ini kali kedua kami ditugaskan ke Jakarta bersama.

Pesawat yang kami tumpangi mendarat di Halim.
Kami pun mencari taksi untuk mengantarkan kami ke tempat tujuan.
Kami mampir ke rumah makan cepat saji untuk membeli sarapan.
Kami sebenarnya berharap dapat menyantap sup untuk sarapan.
Namun, ternyata rumah makan cepat saji yang kami singgahi tidak menyediakan sup. :(

Sesampainya di tempat tujuan, belum ada panitia yang datang.
Mungkin karena kami datang terlalu awal. Hehe.
O iya, sebelum memasuki ruangan saya sempat muntah setelah turun dari taksi.
Maklum sebelum berangkat badan sudah tidak keruan akibat dihajar tenggat waktu.

Senang rasanya bisa ikut pelatihan semacam ini.
Pertama, saya kenal dengan banyak orang keren di bidang penerjemahan.
Kebanyakan mereka semua usianya di atas saya.
Jarang saya temui yang usianya hanya terpaut sedikit dengan saya.
Sebuah keberuntungan dan kebanggaan tersendiri bisa berada di tengah-tengah orang keren itu.
Kedua, saya tentu saja dapat ilmu sakti mandra guna. Hihi.

Seperti biasa, kami harus pulang awal untuk menghindari kemacetan.
Pesawat kami memang baru akan terbang pukul 19.00.
Meski begitu, sebagai orang Jogja yang tidak mengenal lalu lintas Jakarta,
kami tidak ingin ambil risiko.
Kami memilih cabut jam 16.00.
Dipastikan kami tidak bisa mengikuti sesi foto bersama di akhir acara,
kami mempunyai ide cemerlang untuk foto bersama panitia dan pembicara
pada jam istirahat makan siang,
demi laporan ke kantor yang telah memberikan suntikan dana bagi kami. :P
Akibat pulang awal juga, kami ketinggalan sesi diskusi terakhir,
untungnya ada rekan sesama penerjemah yang baik hati,
yang bersedia mengirimkan rekaman audio pembicara tentang sesi itu.
*alhamdulilah ya, sesuatu* :D

Setelah sampai di Cengkareng, rupanya gantian rekan saya yang tepar.
Tangan dan kakinya dingin, jalan pun mesti dituntun.
Maka, sebelum masuk untuk check-in,
saya berkelana mencari yang hangat-hangat untuk makan malam,
semacam sup atau makanan berkuah lainnya.
Perjalanan itu terasa sangat lama dan panjang *lebay*
karena saya butuh tempat makan yang menyediakan mangkok plastik/
wadah apa pun untuk makanan take away mereka.
Setelah akhirnya mendapatkan bakso malang untuk dimakan di ruang tunggu,
saya dan rekan pun check in.

Tahukah kalian apa yang terjadi?
Petugasnya di gerbang bilang kalau
TERMINAL PESAWAT KAMI PINDAH DARI 1A KE TERMINAL 3!
Petugasnya nanyanya juga agak aneh,
"Belum check in ya?"
"Nek wis check in berarti dewe wis ning njero nooo, Pak!!! Please, deh!!!" *mbatin*
Waktu itu sudah pukul 17.30,
mau panik percuma tidak menyelesaikan masalah.

Ya gitu deh,
negara tercinta ini rasanya masih main-main kalau urusan transportasi macam begini.
Bukankah lebih baik kalau di tiket dituliskan dari terminal mana kami akan naik?
Lanjut, si bapak gerbang tadi menganjurkan kami untuk naik shuttle bus.
Tahukah kalian apa lagi yang terjadi?
Ternyata oh ternyata, shuttle bus ki nganggo ngetem barang,
padahal lalu lintasnya agak macet, hujan deras pula.
*sakjane macet, tapi nggo menghibur diri aku munine muk agak*.
Rekan saya yang mukanya udah kayak orang "fly" itu sudah tidak berdaya untuk panik.

Di dalam bus, saya bertemu 2 orang dari Filipina.
Saya sempat salah sangka awalnya.
Saya ajak ngobrol pakai Bahasa Indonesia,
eh dia nyahutnya pakai Bahasa Inggris,
di situ kadang saya merasa sedih. *alay*
Mereka mau terbang ke Manila,
di sinilah lagi-lagi negara tercinta saya ini luar biasa kalau menangani transportasi.
Sebaiknya di bus ada tulisan berjalan yang mengatakan terminal berapa
untuk tujuan ke mana gitu kan ya, tapi kenyataannya enggak.
Jadilah, kalau berkelana di negara tercinta saya ini,
kalian harus sering-sering tanya.
Ya itu aja kalau pas beruntung yang ditanya tahu jawabannya. *mringis*
Untungnya lagi, di bus itu ada penumpang yang tahu
kalau penerbangan internasional naik dari Terminal 2D atau 2E.
Jadi, dua orang Filipina tadi tidak jadi terdampar di sini. :P

Satu terminal lagi menuju terminal 3.
Penumpang yang kasih tahu tentang terminal 2 tadi mengajak saya dan rekan saya mengobrol,
pertanyaan standar, dari mana mau ke mana.
Saya jawab, dari ikut pelatihan penerjemahan di TIM, mau pulang ke Jogja.
Percakapan berlanjut dengan si penumpang menanyakan info teperinci tentang kantor saya.
Dokumen apa saja yang diterjemahkan,
perusahaan mana saja yang pernah menerjemahkan,
pasangan bahasa apa saja yang tersedia, berapa tarifnya, dsb.
Percakapan berakhir dengan si ibu minta kartu nama saya,
saya bilang saya belum punya.
Sebagai gantinya,
saya menuliskan alamat kantor berikut nomor telepon dan email yang bisa dihubungi.
Luar biasa ya kemampuan marketing saya. *macak jumawa*
Agak menyesal sih, kenapa hari itu saya tidak bawa brosur.
Biasanya saya bawa brosur kantor ke mana-mana,
biar setiap ditanya orang saya tidak perlu menjelaskan apa pekerjaan saya. :P
Satu hal yang saya khawatirkan selama perjalanan dari Terminal 1 A ke Terminal 3,
baksone selak ra anget meneh! :(

Akhirnya, saya dan rekan pun tiba di Terminal 3.
Saat check in, saya sudah bilang untuk minta duduk dekat jendela.
Kesialan pun kembali terjadi,
si embak2 rumpi petugas check in malah sibuk ngomongin salon kecantikan.
Daaan, korbannya adalah saya dan rekan saya jadi duduk terpisah.
Beda baris, duduknya pun di B, bukan A. *huft*

Dengan badan tak bertulang *daging semua soalnya*,
kami berjalan gontai ke ruang tunggu.
Benar dugaan saya, baksone wis adem. :(
Daripada pulang dengan perut kosong, maka bakso tetap terlahap habis.
*alesan padahal emang laper*
Seperti biasa, pesawatnya delay.
Saat tiba waktunya kami diminta untuk naik pesawat,
*taraaa* sendal saya jebol sodara-sodara!
Alhasil, nyeker-lah dari ruang tunggu sampai tiba di rumah.

Tahukah kalian?
Ternyata dari Terminal 3, para penumpang diminta naik bus,
daaan busnya itu BALIK LAGI KE TERMINAL 1A!!!
Hanya kali ini busnya lewat dalam landasan.
Kalau gitu ceritanya,
kenapa ruang tunggunya harus dipindah ke Terminal 3??
Biar Terminal 3 ada yang pakai gitu kali ya.. *huft*
Sampai di dekat pesawat,
karena hujan deras dan bus tidak bisa mendekati pesawat,
penumpang dipinjami payung supaya satu per satu dapat berjalan menuju pesawat tanpa basah.

Sesampainya di pesawat, cerita saya belum berakhir,
embak-embak di sebelah saya itu lucunya luar biasa.
*ngguyu sek*
Si pramugari sudah berkali-kali minta agar
para penumpang menonaktifkan perangkat elektronik,
eh, si embak ini tetep aja kekeuh nguthek hp mahalnya itu,
begitu saya melirik ke arahnya si embak ini ngumpetin hpnya di tas,
kayak anak sekolahan yang diem-diem sms-an di kelas
terus hpnya ditaruh di tas tapi tangannya tetep ngetik
biar gak ketauan gurunya gitu.
*dyarrr*
Saya yang sudah hampir tak berdaya, tak mampu berbuat apa-apa,
saya cuma berani nyumpahin, kalau sampai pesawatnya jatuh,
saya bakal nuntut embaknya.
*amit-amit, untung enggak jatuh*

Demikian cerita luar biasa hari itu,
cerita berakhir dengan saya dan rekan tiba dengan selamat di Jogja.
Lalu kembali bekerja keesokan harinya.
*ZzZz*

Kantor, sambil nunggu kiriman file
Rabu, 18 Maret 2015
3:47 PM


Tuesday, February 17, 2015

Sajak 16 Lini

Mencoba memahami namun tak jua mengerti.
Karna sang pemilik hati tak membuka diri.
Saat yang hadir tak sesuai dengan yg dinanti.
Sia-sia katanya menunggu yg tak pasti.
Bila tak ingin terjebak dalam sehidup-semati.
Kejujuran, prinsip paling hakiki.
Bertanyalah pada burung merpati.
Mengapa langit terlalu tinggi.
Tak lelahkah mengelabui.
Segala hal yg pernah menghias hari.
Tak cukup tersapu panasnya mentari.
Kamu yg pernah dan masih singgah di sini.
Berhentilah membohongi nurani.
Memang kenyataan tak semanis mimpi.
Namun, hidup harus terus dijalani.
Dengan atau tanpa yg takkan kembali.



Ruang Instropeksi,
16 Februari
Seorang gadis yg gagal bersembunyi.

Monday, January 26, 2015

Cinta di Atas Dua Puluh Lima

Cinta di Atas Dua Puluh Lima

Ketika rasa menolak dipadukan dengan logika
Ketika hati memilih untuk terus terluka
Ketika diri rela menderita demi orang yang dicinta
Ketika tak bisa mencela saat pesan tak dibalas jua
Ketika mata tak mau berkedip dan senyum tak henti merekah saat bersua
Ketika menghabiskan waktu bersamanya adalah harta karun yang paling berharga
Ketika cemburu namun tak bisa berbuat apa-apa
Ketika tahu dia yang di sana sedang tidak baik-baik saja
Ketika kekhawatiran memuncak di malam hari dan hanya bisa terjaga
Ketika tak bisa menggapainya karena takut akan mengganggunya
Ketika tak berani menyapanya di depan teman-temannya
Ketika tak seorang pun yang kamu percaya untuk tahu semua detailnya
Ketika memilih menangis dalam diam karena tak sanggup menanggung semua rasa
Ketika hanya bisa mengamati semua gerak-geriknya lewat jejaring sosial yang kamu punya
Ketika ingin berbagi cerita namun terlalu sungkan menyampaikannya
Ketika ada berjuta tanya namun tak pernah ada jawabnya
Ketika raga seperti tak bersukma
Ketika merindukannya merupakan siksaan Tuhan yang paling menyiksa
Ketika berbicara dan menatap matanya adalah hal langka
Ketika jarak bukanlah penghalang untuk menemuinya
Ketika tetap mencintainya tak peduli orang berkata apa
Ketika percaya dia akan lebih bahagia tanpa ada kamu di dekatnya
Ketika memilih untuk pergi menjauh darinya
Ketika tak lagi punya daya untuk menyingkirkan semua rasa cintamu untuknya
Ketika hanya doa yang terucap tanpa pernah merengkuhnya
Ketika berharap dia selalu bahagia

Then, when he asks me for the second time, "Which part of me do you like?"
I'll say, "All of you..."
26 January 2015


Monday, May 19, 2014

Teruslah bermimpi, nak! :)

Sabtu, 17 Mei 2014 yang lalu,
adalah pertemuan ekstrakurikuler "Conversation" yang terakhir di semester genap ini.
Di pertemuan terakhir ini, saya memberi tugas kelas XI untuk menyampaikan mimpi mereka.
Mereka berandai ingin kuliah di universitas mana dan mengambil jurusan apa.
Mereka luar biasa, tak seorang pun punya cita-cita yang sama.
Bahkan mereka sudah menyiapkan rencana cadangan,
kalau-kalau mimpi mereka nanti mungkin tak dapat dicapai.
Saat-saat mendengarkan mereka menyampaikan mimpi mereka,
dengan mata yang bersinar,
semangat yang menggebu,
adalah saat-saat yang sangat saya nikmati.
Dalam hati saya berdoa untuk mereka,
"Teruslah bermimpi, Nak! Bermimpi setinggi mungkin.
Jangan biarkan kenyataan dunia yang pahit menghalaumu." :)

Miss Indah
Tutor of Conversation of Group 2
in Saint Mary High School Yogyakarta

Monday, May 5, 2014

Suami Tak Tahu Diri

Haiii! *mringis semringis-mringisnya* :D
Tahun ini, usia saya memasuki usia njagong sedunia.
Iya, teman-teman seangkatan saya mulai banyak yg kawin.
Iya kawin, karena adanya akta perKAWINan bukan perNIKAHan. :P
Di sekitar tempat tinggal saya sendiri, asal sudah lulus SMA,
pasti sudah disuruh rabi sama emak bapaknya.
Entah takut keburu gak laku, atau gimana.
Well, saya sendiri gak setuju dengan istilah "keburu gak laku",
daripada buru-buru laku tapi dapetnya yg malah bikin hidup tambah sengsara?
Lak yo mending nunggu yg pas, ya to?
Nah, yg mau dibahas kali ini adalah tetangga-tetangga saya ,
yang menurut saya termasuk kategori suami,
yg saya yakin, tidak akan kalian harapkan menjadi suami idaman kalian.
Cerita berikut adalah fakta tidak ada yg direkayasa ya cuma pandangannya sedikit subyektif. :P

1. Suami Tetangga Kanan Rumah
Di sebelah kanan saya tinggal sepasang suami istri yg sudah agak sepuh, sang istri adalah pensiunan guru SD, sementara sang suami, kata tetangga yg lain, dulunya tukang becak, terus pas dapet si istri itu dimodali sama si istri buat beli mobil, jadi sopir taksi non argo gitu. Si suami ini kerjanya tiap pagi nyegatin tetangga yg lewat, diceramahin tentang hal yg penting sampai yg paling gak penting. Setelah itu kerjanya cuma duduk2 di depan rumahnya. Gak kerja cari duit atau ngerjain kerjaan rumah, yg cari duit sama ngerjain kerjaan rumah ya si istri. Si suami pernah kena serangan hampir "lewat", ya dipikirnya tetangga2 habis "serangan" itu dia bakal tobat. Tapi yah namanya tobat itu ternyata gak kayak di sinetron2 hidayah gitu yg habis dapet hidayah langsung tobat.

2. Menantu Tetangga Kanan Rumah
Menantu pertama tetangga kanan rumah saya itu juga tipe cowok kurang ajar, konon katanya setelah menikahi anak tetangga saya itu sempat menghamili perempuan lain, berhubung keluarga si cowok kaya, si cewek korban ini dikirimi uang tiap bulan untuk menghidupi anak tidak sahnya. Setelah menikah dengan anak tetangga, si cowok tinggal sama istrinya di rumah yg dikasih sama orang tua si cowok. Si cowok ini gak kerja, untuk menghidupi keluarganya, dia mengandalkan uang bulanan dari emak bapaknya yg kaya raya itu. Tapi ya namanya nasib, setelah beranak 4, emak bapaknya menghentikan uang bulanan dan mengusir mereka dari rumah yg ditinggali. Sekarang, mereka tinggal di rumah tetangga saya itu, menambah beban si ibu mertua. Si menantu sekarang sudah kerja, jadi sopir pribadi, mungkin sudah tobat, yah dilihat saja apakah tobatnya permanen atau anget2 tai ayam. :P

3. Anak Tetangga Kiri Rumah
Nah, lelaki yang ini, gak kerja juga, lagi kuliah katanya, yg kerja istrinya. Menurut prediksi, kayaknya si suami yg nguliahin ya istrinya itu. Si suami ini sebelum nikah juga gak pernah berusaha cari kerjaan, kalau butuh duit dia minta emaknya yg konon katanya adalah pedagang dan rentenir kaya. Sampai beranak 2 sekarang, dia juga berinisiatip buat cari kerja sampingan sambil kuliah. Dia juga gak pernah nyentuh kerjaan rumah, yg nyuci, yg asah2, yg momong anaknya yg masih bayi ya ibunya, yg punya rumah di sebelah kiri saya itu. Kok saya tau? Lha pemeannya di atas, kalau sana mepeni kelihatan dari ruang TV saya, yg mepeni ya mesti si istri, padahal si istri kerjanya dilaju ke Magelang.

4. Pemuda Desa Tak Kerja
Mereka adalah pemuda yg jaga portal, nariki duit dari orang yg lewat portal, kalau malam sering duitnya buat mabuk.

5. Lelaki Tak Berguna
Masih banyak lagi tetangga yang si suaminya nganggur gak kerja yg belum saya ceritakan, intinya mereka ini salah mengartikan paham "emansipasi wanita", menurut mereka itu artinya yg nyari duit, yg masak, yg beres2, yg nyuci, yg asah2, ya si istri, sementara si suami cuma ongkang2 nunggu dilayani.

Pesan moral dari tulisan kali ini adalah jangan mau kalau diajak menikah cuma bermodal cinta, omongan orang jaman dulu itu bener, dilihat dulu bobot bibit bebetnya. Jangan pedulikan kata orang kalau cari calon yg mapan berarti matre, justru itu berarti kita peduli sama masa depan kita dan orang tua kita. Sudah terbukti kalau kita susah, seringkali kita juga menyusahkan orang tua kita, mereka yg harusnya sudah santai2 jadi masih harus ikut menanggung beban rumah tangga kita.
Mari berdoa dan berusaha, semoga calon suami kita kelak adalah yang terbaik ya! Amin! :)

Kantor, gek selo.
May 5, 2014
2:30 PM
@indahituaku

Tuesday, April 15, 2014

Kalau hidup ini adil, buat apa ada polisi?

Judul di atas mewakili perasaan saya saat ini.
Sudah jadi hal biasa kalau ketidakadilan terus terjadi di dunia ini.
Ketika seseorang yang licik dan tidak jujur justru mendapatkan kesempatan emas.
Sementara seseorang yang jujur dan pekerja keras justru terjebak di kehidupan yang fana.
Dan sejujurnya merasakan ketidakadilan dan iri hati itu beda tipis.
Hanya perlu berjuang lebih keras sampai titik darah penghabisan, sedikit keberuntungan, dan banyak restu dari Sang Empunya Hidup.
Percayalah kesempatan itu akan datang.
Jangan lupa melatih kesabaran supaya tidak iri! :)
Semangat! :D

Office, 2:50 PM, April 15, 2014
@indahituaku

Friday, March 7, 2014

Activity Log (August 2013 - February 2014)

Hi, so long time no see ya? How are you doing pals?
A lotta things happened during these 7 months-22 days.
Lemme tell you one by one. :) 
On August last year, I finally did my thesis defense.
I was declared graduated on September 10.
FINALLY. :DDD
Then, I taught the nurse candidate during September - December.
I joined the graduation ceremony on October.
FINALLY AGAIN :DDD
On November, I went to my best-friend house in Wonosobo.
If you have a plan to have a vacation in Wonosobo,
you have to stay at "Pondok Besan Homestay Lereng Sindoro",
Still on November, my best-friends and I went to Pantai Baru near Pantai Kwaru, Bantul.
We took a photo session there.
That was fun since the photos were all great.
I looked beautiful in those photos. Haha. :P
On December, I attended Biennale Exhibition, the theme for last year was Not a Dead End.
The exhibition was divided into several galleries.
Too bad, I could only visit two of them, those were at TBY and JNM.
In my opinion, the one which was at JNM was more interesting than which was at TBY. :)
On January, I applied to an International Office in Jogja.
I did several tests during January and February.
Actually, I felt pessimistic. :(
But, God have made a wonderful plan for me. :)
I'm working there now. :D
I wish everything is always as good as good as so good is very good. :D :P :)
Amen. :)
What 'bout you? What happened on you lately, pals? :D

My Desk in Office, The Third Day of Abstinence, 2014
@indahituaku

Monday, July 1, 2013

Dream List

Dari dulu bercita-cita menuliskan orang-orang yang berarti dalam hidup sesuai jumlah umur, tapi selalu bingung menentukannya. Hahahaha. Menjelang usia yang baru ini, saya mau mewujudkan cita-cita itu. :)

The most precious people in my life:
my mom, my brother, my sister, my dad, my nephew, Ima, Bunda, Winda, Nana, Oda, Khares, Reko..

Ternyata berhenti di angka 12, hehe..

Next, 24 dreams in this 24 years old:
1. Undergraduate Degree
2. Visiting Tourism Places in and around Jogja
(Sultan Palace, Carriage Museum, Sonobudoyo Museum, Batik Musem, Monjali, Volcano Museum,
Ulen Sentalu Museum, Prambanan Temple, Ancient Volcano Mountain, and many more)
3. Taking France course
4. Taking Japanese course
5. Buying a new mobile phone :p
6. Working in Bandung
7. Paying my mom's credit
8. Going around Bali
9. Visiting Tourism Places in Java
10. Watching Project Pop and D'Cinnamons every time they perform in Bandung
11. Decorating my boarding-house-room
12. Visiting Tourism Places in Singapore
13. Visiting Tourism Places in Malaysia
14. Visiting Tourism Places in Brunei
15.  Buying a car
I think including the tourism places I would like to visit in and around Jogja, it has been 24 dreams. :D

How about yours? :)

Library,
two days before getting old
@indahituaku

Tuesday, May 21, 2013

The Beaches

 Sadranan - Umbrella
 
 Sadranan Beach

 Watu Lawang Beach

Watu Lawang View

Thursday, May 16, 2013

What a Great Day

FYI, kemarin itu baru tanggal 15 dan duit orang rumah udah sekarat, termasuk duitku.
Uang yang ada di aku tinggal Rp 55.000,- padahal aku baru dapet duit lagi tanggal 1 bulan depan.
So, kebayang kalau hal ini terjadi sama kalian.
Iya, awalnya aku sempet panik.
Gimana enggak, uang segitu harus dibagi untuk makan serumah (3 orang termasuk aku) dan beli bensin.
Tapi ajaib bin mujarab, Tuhan emang gak pernah tidur, sob!
Kemarin malem disms guru tempatku mengajar ekskul kalau esok harinya aku diminta ke sekolah mengambil uang transport atas nganterin murid lomba kemarin awal bulan.
Saatnya bilang WOW sambil koprol!
Hehe.. :P
See? Salahnya umat manusia tu gak sepenuhnya percaya kalau Tuhan gak bakal ninggalin kita.
Selain dapet sms nomplok, kemarin aku juga berhasil menuhin janjiku untuk ngumpulin chapter 4 setelah tertunda seeekiiiaaan laaamaaa.
Ini progress yang luar biasa loh, yah walaupun masih harap-harap cemas smoga mamah ngoreksinya gak lama-lama, hehe..
Tapi paling gak lumyan lah ya, tetep usaha menghibur diri sendiri ceritanya, haha..
Thus, yesterday was a great day for me.
Thank God. :*

Thursday, December 13, 2012

Great Poems from Besties

Cinta..
dalam tiap lelah dia berikan sandaran..
dalam tiap kelemahan dia berikan kekuatan..
dalam tiap kesulitan dia berikan pengharapan..
-Mas Satub, December 9th, 2008-

Wanita cantik menulis kekuatannya lewat masalahnya..
Tersenyum saat tertekan dan bertumbuh kuat dengan doa dan pengharapan..
-Kucink, December 9th, 2008-

Tinggalkan sesuatu untuk Tuhan,
tapi jangan pernah meninggalkan Tuhan untuk sesuatu..
Sesuatu setiap saat dapat meninggalkanmu,
tapi Tuhan pasti selamanya menemanimu..
-Dhuwai, November 22nd, 2008-

Jika hujan terasa deras dan lama..
cobalah tuk keluar..
hitung dan rasakan..
titik air hujan yang jatuh dari langit..
sebanyak itulah aku bersyukur punya teman sepertimu.. :)
-Midud, November 17th, 2008-

Friendship sale!
Discount up to 100% for every worries, pains, and tears..
Get a free smile everyday and unlimited care
every time and bonus extra hug!
-Mbak D, September 7th, 2008-

Bila aku jadi air mata,
aku mau lahir dari matamu..
Hidup di pipimu,
mati di bibirmu..
Tapi bila kamu jadi air mata,
aku tak akan menangis,
karna aku tak mau kehilangan orang sepertimu..
-Rentri, September 29th, 2008-

Tiga hal yang membuat kita kuat:
Iman, Harapan, Kasih..
Tiga hal yang tidak mungkin dilupakan:
Cinta, Jujur, Persahabatan..
Tiga hal yang tidak dapat dikembalikan:
waktu, perkataan, kesempatan..
Tiga hal yang membuat kita dewasa:
kerja keras, kesetiaan, rasa syukur..
-Bang Ben, October 16th, 2008-

Jika hati sejernih air, jangan biarkan ia keruh..
Jika hati secerah awan, jangan biarkan ia mendung..
Jika hati seterang rembulan, hiasilah dengan senyuman..
-PP, November 4th, 2008-

Sahabat itu seperti diary,
selalu ada untuk tempat curhat..
seperti crayon,
yang slalu memberi warna..
seperti bulan,
yang terangi malam..
sahabat juga seperti mutiara,
indah namun sulit ditemukan..
-Niken, December 8th, 2008-

A star has five ends,
a square has four ends,
a triangle has three ends,
a line has two ends,
but I hope our friendship has no ends..
-Novi-

To make a hundred friends is not a miracle..
The miracle is to make a friend still be a friend for a hundred years..
-Mas K, Valentine Day 2009-

Jangan minta beban yang ringan dari Tuhan,
tapi mintalah bahu yang kuat
supaya dapat memikul beban yang berat,
dengan begitu kita akan mengerti maksud Tuhan atas hidup kita..
-Kak B, February 6th, 2009-

Tuesday, December 4, 2012

Ngayogjazz 2012

"Dengan ngejazz kita tingkatkan swasembada Jazz"










 



November 18th, 2012
@indahituaku
[elise.photography]

Wonosobo

 Danau Telaga Warna


  

Kompleks Candi Arjuna



Dataran Tinggi Dieng


July 22nd, 2012
@indahituaku
[elise.photography]

Thursday, November 15, 2012

What I Miss

Saya merindukan saat di mana saya menghabiskan seharian main sama temen sampai maghrib dan orang tua pergi mencari.
Saya merindukan saat di mana acara TV yang paling keren saat itu cuma Doraemon, Dragon Boy, Detective Conan, sama film vampir di hari Sabtu.
Saya merindukan saat ngobrol bareng temen sampai puas, curhat, ngomongin ini itu ngalor ngidul.
Sekarang, yang saya lihat, anak kecil baru bisa jalan sudah dikasih Ipad untuk mainan.
Balita nonton TV seharian.
Anak SD udah pegang smartphone, android, tablet, atau gadget canggih lainnya.
Anak SMP SMA lebih suka berkicau di jejaring sosial daripada ikut ekstrakurikuler.
Dan anak kuliahan ikut kegiatan kampus cuma buat kejar poin dan sertifikat, bukan buat ajang sosialisasi nambah temen.
Sadarkah bahwa teknologi mengurangi kadar kesabaran kita?
Bayangin dulu jaman saya TK dan SD, komunikasi paling canggih cuma telepon, itu pun belum semua rumah punya, termasuk keluarga saya juga gak punya.
Alhasil, kalau ada kabar penting dari keluarga di luar kota, mereka memberi kabar dengan cara telpon tetangga kami.
Setelah itu SMP dan SMA, cuma ada satu HP di rumah saya, yang fungsinya sama dengan telepon rumah.
Sekarang setiap orang di keluarga saya punya lebih dari satu nomer.
Sekarang kalau SMS tak berbalas, telpon tak terangkat, kita sudah keburu marah-marah pada si penerima, padahal dulu kalau jaman cuma ada telpon rumah, kalau yang dicari gak ada ya udah, mau gimana lagi.
Kita jadi lebih sering meluangkan waktu untuk mengecek HP kita, apakah ada SMS, apakah ada telpon, bahkan frekuensinya lebih sering dari meluangkan waktu untuk Sang Pencipta.
Di jalan, orang jadi hobi SMSan, telpon saat berkendara.
Apakah segala sesuatunya harus serba terburu-buru seperti itu?
Saya tahu kalau waktu adalah uang, tapi bagaimana menjelaskan mempertaruhkan nyawa hanya demi membalas SMS atau menerima telpon demi menghemat waktu?
Apakah waktu sekian detik itu lebih berharga daripada nyawa?
And that #whatImiss..
Saya merindukan dunia yang sederhana, yang masih bisa ngrumpi dengan teman tanpa masing-masing sibuk dengan gadgetnya.
Bukankah teknologi terus maju untuk menyederhanakan segala sesuatu?
 Setidaknya seharusnya begitu.

My Bedroom,
11:41 PM
@indahituaku